Oleh: KH. Lutfi Hakim (Wakil Ketua PWNU Jakarta/Imam Besar FBR) SUARAKAUMBETAWI | Saya sepakat dengan spirit tulisan Husny Mubarok Amir yang menegaskan bahwa Jakarta memiliki akar kultural yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU), dan masyarakat Betawi merupakan salah satu komunitas yang sejak lama hidup dengan tradisi keislaman yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Nahdliyyin. Tradisi tahlilan, maulidan, manaqiban, ziarah kubur, penghormatan kepada ulama, serta kehidupan keagamaan berbasis komunitas telah menjadi bagian dari budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat Betawi jauh sebelum NU berdiri pada tahun 1926. Karena itu, hubungan NU dan Betawi tidak dapat dilihat hanya dalam perspektif organisasi, melainkan sebagai pertemuan panjang antara tradisi keilmuan Islam, budaya masyarakat, dan perjalanan kebangsaan. Namun, narasi sejarah tersebut perlu ditempatkan secara lebih proporsional agar tidak berhenti pada kebanggaan identitas semata. Justru karena memiliki ak...
Oleh: Husny Mubarok Amir (Wakil Ketua PWNU Jakarta) SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, - Nahdlatul Ulama sebagai Organisasi Keagamaan terbesar di Indonesia tentunya memiliki pengaruh signifikan di Kota-kota besar termasuk Jakarta sebagai Ibukota negara. Corak dan karakter keislaman masyarakat Jakarta memang sepenuhnya bukan hanya mirip tapi identik sama persis dengan karakter yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama. Terbukti, jauh sejak pendirian NU, masyarakat Jakarta sudah akrab dengan tradisi tahlilan, manaqiban, mawlidan bahkan nyekar dan ziarah kubur. Masyarakat Jakarta, terutama masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta, hampir keseluruhannya adalah warga Nahdlatul Ulama, atau Nahdliyyin biasa kita sebut. Sebagian kecil saja yang berafiliasi dengan Muhamadiyah, FPI atau mungkin ormas keagamaan lainnya. Nama-nama besar tokoh dan ulama Betawi, hampir mengisi sejarah panjang perjalanan Nahdlatul Ulama. Sejak awal pendiriannya, di Zaman Guru Marzuki Bin Mirshod, ketika Mukta...