Dr. Robi Nurhadi Dosen Hubungan Internasional, FISIP Universitas Nasional E: robinurhadi@yahoo.co.id SUARAKAUMBETAWI | JAKARTA, - Dalam satu dekade terakhir, hubungan Indonesia-Cina telah bertransformasi dari sekadar hubungan dagang menjadi kemitraan ekonomi-politik yang paling menentukan bagi masa depan Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, Cina hari ini adalah mitra dagang terbesar, investor terbesar kedua, dan kontraktor utama proyek-proyek strategis nasional. Namun untuk memahami Cina di Indonesia, kita tidak cukup hanya melihat angka investasi. Kita harus memahami logika besar politik ekonomi Cina. Arah politik ekonomi Cina di Indonesia saat ini tidak bisa dilepaskan dari grand strategy Beijing yang disebut Belt and Road Initiative (BRI) dan doktrin "Two Circulation" (Li & Li, 2024; Ye, 2020). Bagi Beijing, Indonesia adalah simpul terpenting di Asia Tenggara karena tiga alasan: sebagai sumber bahan mentah kritis untuk transisi energi Cina, sebagai pasar bag...
Oleh: KH. Lutfi Hakim (Wakil Ketua PWNU Jakarta/Imam Besar FBR) SUARAKAUMBETAWI | Saya sepakat dengan spirit tulisan Husny Mubarok Amir yang menegaskan bahwa Jakarta memiliki akar kultural yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU), dan masyarakat Betawi merupakan salah satu komunitas yang sejak lama hidup dengan tradisi keislaman yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Nahdliyyin. Tradisi tahlilan, maulidan, manaqiban, ziarah kubur, penghormatan kepada ulama, serta kehidupan keagamaan berbasis komunitas telah menjadi bagian dari budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat Betawi jauh sebelum NU berdiri pada tahun 1926. Karena itu, hubungan NU dan Betawi tidak dapat dilihat hanya dalam perspektif organisasi, melainkan sebagai pertemuan panjang antara tradisi keilmuan Islam, budaya masyarakat, dan perjalanan kebangsaan. Namun, narasi sejarah tersebut perlu ditempatkan secara lebih proporsional agar tidak berhenti pada kebanggaan identitas semata. Justru karena memiliki ak...