Dr. Robi Nurhadi, Dosen FISIP Universitas Nasional SUARAKAUMBETAWI - Peristiwa beruntun di Bundaran HI pada 28-29 Oktober 2026 memberikan pelajaran penting tentang makna Sumpah Pemuda. Tulisan ini menganalisis dua acara dalam satu ruang: aksi mahasiswa murni pada 28 Oktober dan Deklarasi Sumpah Pemuda yang diinisiasi Polda Metro Jaya pada 29 Oktober yang melibatkan Raffi Ahmad cs. Dengan pendekatan teori memori kolektif dan ruang publik, tulisan ini menawarkan jalan agar nilai Sumpah Pemuda tetap murni dan demokrasi tetap sehat. Dua Sumpah dalam Satu Bunderan Sumpah Pemuda 1928 bukan sekedar teks 3 butir. Benedict Anderson (1983) menyebutnya sebagai Imagined Community: saat pemuda dari berbagai daerah mengikatkan diri sebagai satu bangsa. Namun, pada 28 Oktober 2026, Bundaran HI menjadi ruang kritik. Ribuan mahasiswa menyuarakan keresahan tentang masa depan demokrasi, putusan MK, dan isu lingkungan. Sehari kemudian, 29 Oktober 2026, di titik yang sama, Polda Metro Jay...
***** Robi Nurhadi, PhD Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Nasional ***** SUARAKAUMBETAWI | Pada 17 Oktober 2026, Prancis mengalami salah satu hari protes paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan lebih dari 550.000 peserta di seluruh negeri, dengan 1.200 orang ditahan dan 150 polisi terluka (The Munich Eye, 2026). Awalnya merupakan protes pelajar atas fasilitas pendidikan, aksi ini berubah menjadi kerusuhan nasional soal biaya hidup. Artikel ini menjawab tiga pertanyaan: apakah akan memburuk, apakah akan menyebar ke Eropa, dan apakah akan mendunia, dengan menggunakan lensa teori gerakan sosial. Kerusuhan Paris: Dari Protes Sekolah ke Krisis Nasional Gelombang awal protes dimulai September 2026 di SMA pinggiran utara Paris yang miskin, dimana kemarahan atas ketidakhadiran guru dan fasilitas kumuh berubah menjadi gerakan nasional melawan ketimpangan dan lemahnya belanja publik (Reuters, 2026). Pada 17 Oktober, ...